
DAY 11: a film you like from your least favourite genre
Film yang kamu suka dari genre yang paling kamu tidak suka: The Witch (2015)

Genre yang paling saya tidak suka adalah horror, bahkan genre romantis masih lebih mending bagi saya. Entahlah, saya tidak mendapat banyak manfaat menonton film horror, karena saya memang kurang menikmati rasa takut yang muncul karena dedemit hehe. Mungkin karena saya latar pendidikan saya adalah fisika saya jadi lebih cenderung menalar keberadaan entitas dari dimensi lain dengan cara yang ilmiah bukan mistis hehehe. Tapi ada kalanya saya tertarik menonton film horror kalau dia benar-benar bisa membangun suasana yang spooky alih-alih hanya mengandalkan jump scare, dan film ini salah satunya.
The Witch berlatar di New England pada abad ke 17, jadi bahasa yang digunakan masih bahasa inggris kuno mirip yang ada di naskah-naskah drama Shakespeare. Penyebutan you diganti thou atau thee tergantung konteks dan sebagainya.
Tampak dari judulnya, film ini mengisahkan tentang penyihir. Sebuah keluarga kehilangan bayinya dan diduga bayi itu diambil penyihir. Keluarga tersebut bukanlah keluarga yang religius. Sang adik menuduh kakaknya bekerja sebagai penyihir dan menumbalkan adik bayi mereka. Setelah itu hal-hal aneh lain mulai terjadi.

Film ini berhasil membangun suasana seram dengan palet warna yang pucat dan musik pengiring yang minimalis, tanpa embel-embel CGI. Akting para aktornya juga bagus. Saking menyeramkannya, setelah menonton film ini masih ada rasa takut yang tertinggal dalam diri saya, seolah-olah saya percaya penyihir itu memang benar-benar ada. Rating saya untuk film ini 8.5/10.
DAY 12: a film that you hate from your favorite genre
Film yang kamu benci dari genre kesukaan kamu: Climax (2018)

Saya paling suka genre drama/misteri, karena membuat penasaran tentunya dan juga cerebral. Biasanya film-film dari sutradara David Fincher yang genrenya begini. Ada The Game (1995), Gone Girl (2014), Zodiac (2007)… Sepertinya hampir semua film beliau genrenya misteri. Lalu ada juga sutradara yang naik daun akhir-akhir ini berkat talentanya dalam membuat film yang penuh teka-teki, Denis Villeneuve.
Sebenarnya film Climax tidak jelek. Bukan itu alasan saya membenci film ini. Dan sudah sangat wajar bagi orang-orang untuk membenci film-film karya Gaspar Noe yang terkenal sadistik dan erotis. Bagi saya film ini memuakkan, hampir-hampir membuat mual. Pencahayaan yang terlalu remang-remang, kadang bahkan berkedip-kedip, dan pergerakan kamera yang sangat dinamis bisa memicu epilepsi. Film ini dengan tidak mengejutkan tentunya, disturbing. Ya, disturbing adalah salah satu trademark dari sutradara satu ini. Cerita bergerak dari satu tokoh ke yang lain, berganti-ganti, dan karakter-karakternya menggila secara tidak karuan. Setnya juga monoton. Film ini hanya mendapat nilai 6.8/10 di mata saya, walaupun di IMDB ratingnya bisa mencapai 7.2/10.
DAY 13: a film that put you in deep thoughts
Film yang membuatmu berpikir mendalam: Three Colors: Red (1994)

Bagi saya Krzysztof Kieślowski adalah the master of irony. Film-filmnya biasanya bertemakan takdir yang dipelintirkan, terutama dalam film ini. Saya tidak akan memberikan sinopsis yang rinci dari film ini, takut jadi spoiler. Tapi film ini akan membuat yang menonton mencoba untuk menghubung-hubungkan berbagai kejadian dan berusaha menelusuri benang merah.
Bercerita tentang seorang gadis belia yang menggeluti bidang modelling dan dipertemukan secara tidak sengaja dengan seorang mantan hakim karena anjing yang tersesat di pinggir jalan, film ini berhasil membuat saya memikirkan kembali tentang takdir, reinkarnasi dan hubungan antar manusia. Apa itu takdir? Bagaimana takdir bekerja.
Didominasi warna merah, tersirat dari judulnya, sinematografi film ini sangat patut diacungi jempol. Estetis, sangat indah. Di akhir film ini, penonton tahu kalau film ini berkelindan dengan film-film sebelumnya dalam trilogi Three Colors ini, yang menggambarkan bendera Perancis. Namun dalam trilogi ini warna biru melambangkan kesedihan, putih kejujuran, dan merah hasrat. Film ini saya beri nilai 10/10.
DAY 14: a film that gives you depression
Film yang membuatmu depresi: Happiness (1998)

Meskipun judulnya “Happiness” yang berarti kebahagiaan film ini terbilang dark dan depresif. Mungkin film ini bisa dikatakan bergenre dark comedy. Dibalut dalam palet warna yang memancarkan kisah kehidupan keseharian dan diselipi humor-humor canggung, film ini terkadang membuat saya terkekeh tanpa saya sadari dan kemudian kembali diam termenung meratapi jalannya hidup, betapa absurd dan tidak masuk akal.
Kisah dalam film ini beputar pada tiga wanita bersaudara dengan segala dilema kehidupannya masing-masing. Yang satu merupakan ibu rumah tangga dengan hidup berkecukupan dan keluarga yang tampak normal dari luar, yang satu lagi wanita karir cantik yang bisa dengan mudah membuat laki-laki manapun berlutut di hadapannya, dan yang terakhir hanyalah seorang pecundang yang gagal dalam hal apa saja.
Dalam film ini penonton diajak mengerti bahwa seorang pedofil juga manusia, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Ia memiliki pekerjaan yang mapan dan juga dapat membangun rumah tangga serta memiliki keluarga. Bahkan keluarganya bisa dianggap bahagia, semua berjalan baik-baik saja walaupun di dalam ia secara sengit bergelut dengan nafsu terlarangnya. Itulah yang menjadikan film ini kontroversial dan mendorong banyak kritikus film mengutuk film ini, penonton mau tak mau dipaksa mencoba bersimpati dengan keadaan si pedofil. Bukan berarti Todd Solondz, sang sutradara, ingin penonton mewajarkan tindakan si pedofil. Ia hanya ingin memanusiakan si pedofil, yang meskipun perbuatannya tentu saja menjijikkan, masih memiliki nurani dalam dirinya. Tak semua yang melekat pada si pedofil adalah keburukan. Inilah yang membuat saya depresi. Film ini menyentil bagaimana kita, manusia, mencoba untuk bahagia tak peduli apakah kita sudah dengan tepat mendefinisikan apa itu kebahagiaan bagi diri kita. Seringkali kita menipu diri sendiri demi mengejar kebahagiaan semu, dan saat mencari kebahagiaan kita terjatuh berulang kali. Kemudian saat kebahagiaan seakan sudah diraih, ia dapat dengan mudah direnggut dari tangan kita dan semua yang telah susah payah dibangun pun hancur berantakan. Saya akan memberikan film ini 9.5/10 untuk orisinalitasnya.
DAY 15: a film that makes you feel happy
Film yang membuatmu merasa senang: Me and Earl and the Dying Girl (2015)

Ringan dan menyuguhkan komedi yang renyah, film ini sudah berulang kali saya tonton ketika membutuhkan hiburan tanpa mau mengambil risiko. Saat pekerjaan menumpuk dan ada banyak tekanan dari berbagai sisi, saya tidak mau sampai salah memilih film yang katanya komedi tapi nyatanya garing.

Yang membuat saya jatuh cinta pada film ini adalah karakter utamanya Greg dan Earl yang merupakan para antusias film asing klasik (classic foreign films) sama seperti saya. Hobi mereka membuat parodi singkat film-film klasik dan memelesetkan judulnya. Kalau kata Greg dia suka film asing klasik karena jalan ceritanya yang absurd dan tak masuk akal, sama seperti hidup. Ada banyak klip film klasik diselipkan dalam film ini yang tanpa disengaja menjadi semacam easter eggs tesendiri bagi saya. Selain itu ceritanya juga orisinil dan tidak formulaic a la film-film coming of age yang menstereotipkan orang dan mengedepankan kisah romantis klise. Nilai untuk film ini adalah 8.8/10.













