30-Day Movie Challenge (Part 2)

DAY 11: a film you like from your least favourite genre

Film yang kamu suka dari genre yang paling kamu tidak suka: The Witch (2015)

Genre yang paling saya tidak suka adalah horror, bahkan genre romantis masih lebih mending bagi saya. Entahlah, saya tidak mendapat banyak manfaat menonton film horror, karena saya memang kurang menikmati rasa takut yang muncul karena dedemit hehe. Mungkin karena saya latar pendidikan saya adalah fisika saya jadi lebih cenderung menalar keberadaan entitas dari dimensi lain dengan cara yang ilmiah bukan mistis hehehe. Tapi ada kalanya saya tertarik menonton film horror kalau dia benar-benar bisa membangun suasana yang spooky alih-alih hanya mengandalkan jump scare, dan film ini salah satunya.

The Witch berlatar di New England pada abad ke 17, jadi bahasa yang digunakan masih bahasa inggris kuno mirip yang ada di naskah-naskah drama Shakespeare. Penyebutan you diganti thou atau thee tergantung konteks dan sebagainya.

Tampak dari judulnya, film ini mengisahkan tentang penyihir. Sebuah keluarga kehilangan bayinya dan diduga bayi itu diambil penyihir. Keluarga tersebut bukanlah keluarga yang religius. Sang adik menuduh kakaknya bekerja sebagai penyihir dan menumbalkan adik bayi mereka. Setelah itu hal-hal aneh lain mulai terjadi.

Film ini berhasil membangun suasana seram dengan palet warna yang pucat dan musik pengiring yang minimalis, tanpa embel-embel CGI. Akting para aktornya juga bagus. Saking menyeramkannya, setelah menonton film ini masih ada rasa takut yang tertinggal dalam diri saya, seolah-olah saya percaya penyihir itu memang benar-benar ada. Rating saya untuk film ini 8.5/10.

DAY 12: a film that you hate from your favorite genre

Film yang kamu benci dari genre kesukaan kamu: Climax (2018)

Saya paling suka genre drama/misteri, karena membuat penasaran tentunya dan juga cerebral. Biasanya film-film dari sutradara David Fincher yang genrenya begini. Ada The Game (1995), Gone Girl (2014), Zodiac (2007)… Sepertinya hampir semua film beliau genrenya misteri. Lalu ada juga sutradara yang naik daun akhir-akhir ini berkat talentanya dalam membuat film yang penuh teka-teki, Denis Villeneuve.

Sebenarnya film Climax tidak jelek. Bukan itu alasan saya membenci film ini. Dan sudah sangat wajar bagi orang-orang untuk membenci film-film karya Gaspar Noe yang terkenal sadistik dan erotis. Bagi saya film ini memuakkan, hampir-hampir membuat mual. Pencahayaan yang terlalu remang-remang, kadang bahkan berkedip-kedip, dan pergerakan kamera yang sangat dinamis bisa memicu epilepsi. Film ini dengan tidak mengejutkan tentunya, disturbing. Ya, disturbing adalah salah satu trademark dari sutradara satu ini. Cerita bergerak dari satu tokoh ke yang lain, berganti-ganti, dan karakter-karakternya menggila secara tidak karuan. Setnya juga monoton. Film ini hanya mendapat nilai 6.8/10 di mata saya, walaupun di IMDB ratingnya bisa mencapai 7.2/10.

DAY 13: a film that put you in deep thoughts

Film yang membuatmu berpikir mendalam: Three Colors: Red (1994)

Bagi saya Krzysztof Kieślowski adalah the master of irony. Film-filmnya biasanya bertemakan takdir yang dipelintirkan, terutama dalam film ini. Saya tidak akan memberikan sinopsis yang rinci dari film ini, takut jadi spoiler. Tapi film ini akan membuat yang menonton mencoba untuk menghubung-hubungkan berbagai kejadian dan berusaha menelusuri benang merah.

Bercerita tentang seorang gadis belia yang menggeluti bidang modelling dan dipertemukan secara tidak sengaja dengan seorang mantan hakim karena anjing yang tersesat di pinggir jalan, film ini berhasil membuat saya memikirkan kembali tentang takdir, reinkarnasi dan hubungan antar manusia. Apa itu takdir? Bagaimana takdir bekerja.

Didominasi warna merah, tersirat dari judulnya, sinematografi film ini sangat patut diacungi jempol. Estetis, sangat indah. Di akhir film ini, penonton tahu kalau film ini berkelindan dengan film-film sebelumnya dalam trilogi Three Colors ini, yang menggambarkan bendera Perancis. Namun dalam trilogi ini warna biru melambangkan kesedihan, putih kejujuran, dan merah hasrat. Film ini saya beri nilai 10/10.

DAY 14: a film that gives you depression

Film yang membuatmu depresi: Happiness (1998)

Meskipun judulnya “Happiness” yang berarti kebahagiaan film ini terbilang dark dan depresif. Mungkin film ini bisa dikatakan bergenre dark comedy. Dibalut dalam palet warna yang memancarkan kisah kehidupan keseharian dan diselipi humor-humor canggung, film ini terkadang membuat saya terkekeh tanpa saya sadari dan kemudian kembali diam termenung meratapi jalannya hidup, betapa absurd dan tidak masuk akal.

Kisah dalam film ini beputar pada tiga wanita bersaudara dengan segala dilema kehidupannya masing-masing. Yang satu merupakan ibu rumah tangga dengan hidup berkecukupan dan keluarga yang tampak normal dari luar, yang satu lagi wanita karir cantik yang bisa dengan mudah membuat laki-laki manapun berlutut di hadapannya, dan yang terakhir hanyalah seorang pecundang yang gagal dalam hal apa saja.

Dalam film ini penonton diajak mengerti bahwa seorang pedofil juga manusia, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Ia memiliki pekerjaan yang mapan dan juga dapat membangun rumah tangga serta memiliki keluarga. Bahkan keluarganya bisa dianggap bahagia, semua berjalan baik-baik saja walaupun di dalam ia secara sengit bergelut dengan nafsu terlarangnya. Itulah yang menjadikan film ini kontroversial dan mendorong banyak kritikus film mengutuk film ini, penonton mau tak mau dipaksa mencoba bersimpati dengan keadaan si pedofil. Bukan berarti Todd Solondz, sang sutradara, ingin penonton mewajarkan tindakan si pedofil. Ia hanya ingin memanusiakan si pedofil, yang meskipun perbuatannya tentu saja menjijikkan, masih memiliki nurani dalam dirinya. Tak semua yang melekat pada si pedofil adalah keburukan. Inilah yang membuat saya depresi. Film ini menyentil bagaimana kita, manusia, mencoba untuk bahagia tak peduli apakah kita sudah dengan tepat mendefinisikan apa itu kebahagiaan bagi diri kita. Seringkali kita menipu diri sendiri demi mengejar kebahagiaan semu, dan saat mencari kebahagiaan kita terjatuh berulang kali. Kemudian saat kebahagiaan seakan sudah diraih, ia dapat dengan mudah direnggut dari tangan kita dan semua yang telah susah payah dibangun pun hancur berantakan. Saya akan memberikan film ini 9.5/10 untuk orisinalitasnya.

DAY 15: a film that makes you feel happy

Film yang membuatmu merasa senang: Me and Earl and the Dying Girl (2015)

Ringan dan menyuguhkan komedi yang renyah, film ini sudah berulang kali saya tonton ketika membutuhkan hiburan tanpa mau mengambil risiko. Saat pekerjaan menumpuk dan ada banyak tekanan dari berbagai sisi, saya tidak mau sampai salah memilih film yang katanya komedi tapi nyatanya garing.

Yang membuat saya jatuh cinta pada film ini adalah karakter utamanya Greg dan Earl yang merupakan para antusias film asing klasik (classic foreign films) sama seperti saya. Hobi mereka membuat parodi singkat film-film klasik dan memelesetkan judulnya. Kalau kata Greg dia suka film asing klasik karena jalan ceritanya yang absurd dan tak masuk akal, sama seperti hidup. Ada banyak klip film klasik diselipkan dalam film ini yang tanpa disengaja menjadi semacam easter eggs tesendiri bagi saya. Selain itu ceritanya juga orisinil dan tidak formulaic a la film-film coming of age yang menstereotipkan orang dan mengedepankan kisah romantis klise. Nilai untuk film ini adalah 8.8/10.

Terjerat Nostalgia

Bangunan bernuansa biru menjulang tinggi di bagian utara Kota Muntilan. Dikelilingi rumput dan halaman yang luas, tempat ini mengirimkan sinyal bagi pengunjung untuk merasa aman dan nyaman. Dulu, sekarang, dan mungkin esok, aku selalu berada di sana mengembara. Menapaki setiap sudutnya sembari bertanya-tanya. Berkontemplasi sambil refleksi diri, memikirkan eksistensi yang menjemukan, keabsurdan kehidupan, dan kebingungan dalam menjadi manusia. Atau aku hanya mengelayap, menghabiskan hari dengan canda tawa bersama sahabat, membaca majalah secara acak, menginventaris buku-buku filsafat dan novel-novel misteri di dalam benakku, juga duduk termenung menunggui laptop dengan bosan.

Kini perpustakaan ini ramai pengunjung, aku bersyukur namun aku juga menyayangkan. Bersyukur karena ini dapat menarik orang untuk membaca, namun menyayangkan bahwa tempat ini tak lagi menjadi rahasia kami. Kami bertiga yang dulunya siswi-siswi yang dirundung dan terasingkan, mencoba menemukan dunia fantasi dan pelarian di tempat ini. Setelah dewasa dan berulang kali ditampar realita, kami mendapuk diri sebagai sampah masyarakat. Terlempar jauh dari lingkaran modernitas. Kami akan selalu bersandar di pojokan, mengamati dan menghakimi tanpa ikut menari di tengah hiruk pikuk para pencari keuntungan. Karena itu, ingin rasanya perpustakaan kecil nan usang itu abadi. Supaya ketika kami lelah kami punya rumah untuk kembali. Para petugas dan pelayan sudah hafal kami.

Para filsuf jalanan titisan Diogenes dahulu menjamah tempat ini. Manusia-manusia eksentrik, orang-orang buangan, dan para penyendiri sering berkumpul di sini. Segelintir anak sekolah dengan kepolosannya melintas ke sana kemari. Kurasa bau apek dan cahaya yang remang lebih tertahankan ketimbang jendela-jendela kaca lebar dan wifi berkecepatan tinggi.

Aku rindu. Rindu menyembunyikan buku di balik deretan katalog tebal meskipun aku tak sempat membacanya. Rindu berteduh meskipun badan sudah bayah kuyup merintangi hujan demi bisa berada di sana. Rindu menyelundupkan makanan berkuah yang dijajakan di depan sekolah. Rindu berebut sebuah komputer lelet demi bisa membuka laman facebook secara bergantian. Rindu bapak tua beruban yang dengan rajin meretas sandi dari majalah tanaman dan koran.

Dunia kami seakan ikut roboh ketika perpustakaan kecil itu dihancurkan dan dibangun ulang di sisi lain bekas taman. Layaknya harapan kami yang turut pupus dan hangus bersamaan dengan mimpi-mimpi kami yang tersisih dari mimpi-mimpi orang lain. Sekarang hanya pohon kecubung yang belum dibabat yang menjadi penanda teritori sisa-sisa nyawa imajinasi kami. Perubahan adalah bagian tak terpisahkan dari peradaban. Perubahan adalah konsekuensi dari hukum alam. Tapi apalah daya kami, manusia yang terjerat nostalgia. Manusia yang bermukim di masa lalu dan enggan pindah. Manusia yang menerawang masa depan sebagai ancaman.

From Nothing To Nothing

Nonexistence banged inaudibly
Sparked matter and energy
The Universe is a boundless void filled with pulsing things
Stars, dwarfs, holes, life
But life itself bears no meaning

Reach for the stars they say
Ignorant of depth
Confined outside the realm of contemplation
Hence to mention they forgot
The light will blind you and ignite you
Into smoke, ashes, dusts floating in vacuum

Exist or don't, doesn't matter
The Earth revolves around the Sun
Moon around the Earth
Supernovas, quiet explosion inside the sphere
Fiery, expanding
Contracting, refueling, holding on to being
Nothing can escape gravity
Still

But where IS you?
Ceased into phantom
Stuck in a train
Where eternal nothingness is the final destination
Your values receding from memories
Leaving no trace
Ad nihilum

You weren't, you were, but you're no longer are
Emerging from nothingness
Only to fill the void with more emptiness
And time flies in circles
Our boundless void shrinking
Back to nonexistence
Or toward oblivion

Melancholia (2011) Berbicara Depresi Melalui Visual

Dari judulnya kita dapat menduga bahwa film ini berbicara tentang depresi, melancholia dulunya digunakan untuk menyebut depresi. Kini, istilah melancholia merujuk pada jenis depresi tingkat lanjut di mana seseorang mengalami anhedonia, yakni kehilangan motivasi dan ketertarikan terhadap hal-hal yang biasanya ia lakukan. Selain itu seseorang dengan melancholia  akan tetap merasa sedih, putus asa, dan dihantui rasa bersalah meskipun hal-hal baik terjadi dalam hidupnya.

Melancholia dalam film ini merupakan nama sebuah planet yang akan menabrak bumi dan saat itu terjadi tentunya bumi akan hancur. Jadi, bisa dibilang ini film berjenis fiksi ilmiah atau bahkan fantasi. Cerita berpusat pada dua orang wanita, kakak beradik, Justine dan Claire. Kirsten Dunst berperan sebagai sang adik, Justine, sementara Charlotte Gainsbourg berperan sebagau sang kakak, Claire.

Unsur melancholia dalam film ini melekat pada tokoh utama, Justine. Meskipun Justine baru saja naik jabatan dan ia pada akhirnya dapat menikah dengan orang yang dicintainya dengan pesta pernikahan yang megah, ia tetap merasakan kesedihan mendalam yang tak terungkapkan. Terlepas dari itu, Justine seakan-akan menyambut kedatangan planet bernama melancholia ini. Ada suatu adegan di mana Justine berbaring telanjang di bawah sinar yang terpantul dari planet ini. Di sisi lain, Claire mengalami rasa cemas yang hebat dikarenakan kedatangan planet ini. Dari situ saya menyimpulkan bahwa Lars von Trier tidak hanya ingin menunjukkan seperti apa depresi namun juga seperti apa gangguan kecemasan. Seringkali kedua kondisi ini, depresi dan gangguan kecemasan, muncul secara bersamaan dan menjadi sebuah siklus. Di film ini depresi menjelma dalam diri Justine, sedangkan gangguan kecemasan menjelma dalam diri Claire.

Musik karya Richard Wagner yang berjudul Tristan und Isolde menjadi musik tema dan digunakan secara berulang-ulang dalam film ini. Alunan musik Wagner ini sendiri sangat depresif, dan Lars von Trier memadukannya dengan potongan-potongan adegan yang di-slow motion.

Slow motion film ini tidak main-main, penonton harus bersabar, adegan yang di-slow motion tidak dimaksudkan untuk menceritakan suatu kejadian, namun lebih ke menggambarkan depresi secara metaforis melalui visual. Sebagai orang dengan depresi, saya dapat menghayati adegan-adegan ini dan bahkan sangat menghargai gagasan von Trier untuk membuatnya. Karena memang pada saat parah-parahnya, itulah yang saya rasakan, melakukan suatu hal sepele saja rasanya sangat berat. Saking beratnya, rasanya seperti inersia menggelayuti tubuh saya, mirip dengan beberapa adegan pada film ini yang gerakannya teramat lambat.

Bagi saya ini menjadi salah satu film yang dapat menggambarkan depresi dengan cara yang artistik namun realistis, tidak membutuhkan banyak bumbu drama ataupun klise yang terkadang justru menyudutkan orang dengan depresi. Dari apa yang saya baca, katanya nama Justine terinspirasi dari novel karangan Marquis de Sade dan Lars von Trier mendasarkan karakter ini pada dirinya sendiri. Nilai yang saya berikan untuk film ini adalah 9.5/10.

Apakah Light of My Life (2019) Terlalu Lamban?

Alur cerita dari film ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita. Perjuangan orang tua beserta anaknya untuk bertahan hidup di dunia paska kiamat (post-apocalyptic world) menjadi tren akhir-akhir ini. Sebut saja Bird Box (2018) dan A Quiet Place (2018). Film ini juga memiliki vibe yang mirip dengan Leave No Trace (2018).

Ulasan mengenai film ini tidak begitu bagus. Tidak buruk, namun menurut saya film ini pantas mendapat apresiasi yang lebih baik lagi. Diproduseri, ditulis, dan disutradarai oleh Casey Affleck, yang juga memerankan tokoh ayah di film ini, film ini dianggap terlalu lambat. Beberapa tidak mempermasalahkan lajunya yang lamban. Kalau kita lihat, film-film Tarkovsky juga memiliki laju yang lamban dan ini yang seringkali membuat orang tidak sabar, mengantuk, ataupun bosan.

Bagi orang yang terbiasa menonton film-film berlaju cepat dan sarat aksi, film semacam ini akan benar-benar menguji kesabaran mereka. Wajar kalau mereka menyangka film ini terlalu lamban. Tapi bagi saya film ini berjalan dengan laju yang tepat. Justru daya tarik film ini di mata saya terletak pada kelambanannya. Film ini selamban kegiatan dan pembicaraan yang kita lakukan dalam dunia nyata, sehingga ketika menontonnya saya malah merasa benar-benar engaged dengan film ini. Ketika sang ayah menyampaikan bed time story kepada si anak, saya merasa seolah saya benar-benar ada di situ, turut mendengarkan. Tak jarang saya tertawa cekikikan sedikit mendengar lelucon yang dilontarkan sang ayah untuk menghibur anaknya. Saya juga terkesima dengan kecerdasan sang anak ketika mendiskusikan perbedaan etika dan moral dengan sang ayah. Pada beberapa adegan saya benar-benar terbawa emosi, sedih dan haru menyaksikan kepolosan anaknya dan upaya sang ayah untuk membuatnya mengerti bahwa ia berusaha melindunginya. Tapi adengan paling menyentuh tetap ada di akhir cerita.

Bagi saya film ini tidak terlalu lamban sama sekali. Film ini hanya mecoba mengadaptasi laju kehidupan sehari-hari kita sehingga film ini dapat terasa sangat nyata. Controversy aside, selamat untuk Casey karena bisa membuat film yang indah ini. Film ini layak mendapatkan nilai 8.6/10.

Once Upon A Time In Hollywood (2019) Delightful and Disappointing, Memuaskan Sekaligus Mengecewakan

Disclaimer: This is just my opinion not necessarily a review, just what I think and what I feel about this movie. So this may be very subjective and biased.

Peringatan: Tulisan ini hanyalah pendapat pribadi saya, bukan review, hanya apa yang saya pikirkan dan apa yang saya rasakan tentang film ini. Jadi tulisan ini sangat subyektif dan bias.

In a universe where there are Rick Dalton and especially Cliff Booth... They exist to save the day.

Di semesta yang ada Rick Dalton dan Cliff Boothnya… Mereka hadir untuk menyelamatkan hari.

Ok, when I finished watching this movie I was both delighted and disappointed. There were elements in this movie that got me amazed, but at some point it was not like what I expected.

Baiklah, saat saya selesai menonton film ini saya merasa puas sekaligus kecewa. Ada beberapa unsur di film ini yang membuat saya terpana, tapi untuk hal-hal tertentu film ini tidak seperti apa yang saya harapkan.

The Delightful Part

This movie is about how Hollywood was like in the late 60s. We have Sharon Tate’s story as the central, so things that happened in the movie actually gravitated around her story. All the events eventually led to that one inevitable night. But need I remind you her character was an extra.

Tarantino did a marvellous job on that, recreating the late 60s in Hollywood. It really captured the atmosphere, the streets, the buildings, the people, the fashion. When I watched that I got immersed to the story as if I was really living that era. It sort of reminded me of La La Land, only it was better in my opinion.

Really, it was very fun to watch. It was not the kind of movie with some depth in my opinion, or I just probably missed the point. It was entertaining and took me to the land of imagination, what could happen if there were Rick Dalton and Cliff Booth in Hollywood during that time.

Bagian Yang Memuaskan

Film ini bercerita tentang Hollywood di akhir tahun 60an dan berpusat pada kisah Sharon Tate, sehingga kejadian-kejadian di film ini pada akhirnya mengarah ke malam yang tak terhindarkan itu. Namun perlu saya ingatkan, karakter Sharon Tate hanya sebagai pemeran tambahan di film ini.

Tarantino secara gemilang membangun ulang Hollywood di akhir 60an pada film ini. Film ini berhasil menangkap atmosfer era itu, mulai dari jalanannya, bangunannya, orang-orangnya, juga cara berpakaiannya. Ketika saya menonton film ini saya begitu tenggelam dalam ceritanya seakan-akan saya benar-benar sedang berada di masa itu. Sekilas film ini mengingatkan saya akan La La Land, hanya saja film ini masih lebih bagus kalau menurut saya hehe.

Tapi sungguh, film ini sangat menyenangkan untuk ditonton. Film ini bukanlah jenis film dengan pesan yang mendalam, atau mungkin sayanya saja yang melewatkannya. Film ini menghibur dan membawa saya berimajinasi tentang apa yang dapat terjadi seandainya ada Rick Dalton dan Cliff Booth di Hollywood kala itu.

The Disappointing Part

What did I expect when I was about to watch a Quentin Tarantino movie? Blood and gore at its core, humorous and hillarious jokes, chatty and comic like character. This one did not have all those elements, or at least not in a thick portion that I could tell right away it’s a Tarantino movie when I watched it. It lacked Tarantino’s trademarks other than his foot fetish lol. That probably why some people considered the movie was too long, because it was like watching how people spent their days in the late 60s Hollywood, less action and gore compared to his other films. It may appear not as fast-paced as his previous films.

But my disappointment is none of Tarantino’s fault. He had the right to make a different movie that did not follow his formula as much, and that was an interesting thing to do for a director. I was just so accustomed to blood and weapon dominating the scenes when watching his movies. So when the portion was intentionally reduced in this movie, I ended up a bit disappointed. In analogy, it was like someone who expected Blade Runner 2049 to be an action movie like MCU’s and found out it was a noir film with intense scenes and barely action and humor, they’re of course disappointed.

Bagian Yang Mengecewakan

Apa yang saya harapkan ketika saya menonton sebuah film karya Quentin Tarantino? Darah di mana-mana, guyonan-guyonan lucu dan jenaka, karakter yang bawel dan mirip komik. Film ini tidak memiliki seluruh unsur tersebut, atau setidaknya tidak dalam porsi yang besar sehingga saya tidak bisa dengan segera mengenali bahwa ini adalah film buatan Tarantino saat menontonnya. Film ini kekurangan ciri khas Tarantino selain fetishnya terhadap kaki hahaha. Mungkin inilah yang menyebabkan beberapa orang berpendapat kalau film ini terlalu lama, karena rasanya seperti sedang menyaksikan bagaimana orang-orang menghabiskan waktu mereka di akhir tahun 60an di Hollywood, aksi dan adegan berdarahnya lebih sedikit dibandingkan film-film Tarantino yang lain. Jadi film ini kesannya lebih lambat dari film-film Tarantino yang lain.

Tapi kekecewaan saya sama sekali bukan kesalahan dari pihak Tarantino. Ia punya hak untuk membuat film yang berbeda dan tidak sepenuhnya mengikuti rumusan yang biasa ia gunakan, dan justru hal itulah yang kadang membuat seorang sutradara menarik. Hanya saja, saya terlanjur terbiasa dengan darah dan senjata yang mendominasi dalam film-film Tarantino, sehingga saat porsinya sengaja dikurangi di film ini, saya jadi sedikit kecewa. Kalau dianalogikan ya ibarat ada orang yang mengira Blade Runner 2049 itu film aksi layaknya film-film Marvel pada umumnya dan ternyata film ini adalah film noir dengan adegan-adegan mencekam dan hampir tidak ada aksi atau guyonannya, tentu saja mereka bakal kecewa.

My Opinion In General

Compared to other movies nowadays, this one is absolutely a gem. But compared to other Tarantino’s movies, I prefer the others, except for Jackie Brown. Leo’s acting was great and on point, as always, but Brad Pitt stole the show with his charisma and charms. Brad’s character was really cool. The scene with the mansion family was very intense and spooky. I was left wondering, anxious about what would happen next. For a minute I thought that was how it would be like if Tarantino directed a thriller movie haha. Despite being a bit disappointed with this movie, in my humble opinion this movie still deserves 9/10.

Pendapat Saya Secara Umum

Dibanding film-film lain dewasa ini, film ini sangat berharga. Namun dibandingkan dengan film-film Tarantino yang lain saya masih lebih suka yang lain, terkecuali Jackie Brown. Akting Leo sangat hebat dan pas, seperti biasa, tapi Brad Pitt justru berhasil mencuri perhatian dengan karisma dan pesonanya. Karakter Brad benar-benar keren. Adegan yang ada keluarga Mansonnya terasa sangat mencekam dan menakutkan. Saya sendiri bertanya-tanya dan cemas kira-kira apa yang akan terjadi. Untuk beberapa saat saya pikir beginilah penampakannya kalau Tarantino menyutradari film thriller haha. Meskipun saya sedikit kecewa dengan film ini, menurut pendapat saya film ini tetap layak mendapat nilai 9/10.

Upstream Color (2013) Adalah Film Yang Tidak Jelas

Ketika saya mengatakan bahwa film ini tidak jelas, saya tidak memaksudkannya sebagai sesuatu yang negatif. Tidak jelas di sini memiliki konotasi bahwa film ini dari segi cerita sangatlah abstrak. Sekilas film ini memiliki vibe yang mirip dengan film-film Terrence Malick. Kita disuguhi potongan-potongan visual yang bisa dibilang saling berhubungan tapi pada saat yang sama juga tidak saling berhubungan. Otak kita seakan dipaksa untuk menalar jalan ceritanya yang hampir tidak mungkin untuk dilakukan. Karena film ini memang dibuat dengan gaya cerita yang sangat tidak linear.

Film ini dapat dikategorikan sebagai film fiksi ilmiah atau film romantis. Namun film ini jauh dari unsur fiksi ilmiah ataupun adegan romantis yang sering kita temui. Entah apa yang dibicarakan film ini, di sinilah letak ketidakjelasannya. Justru dengan ketidakjelasannya film ini mengundang penonton untuk menafsirkannya dengan bebas.

Di awal film adegan berpusat pada larva. Saya tidak mengerti apa yang dilakukan pada larva-larva tadi, kenapa, dan untuk apa. Yang jelas larva tersebut kemudian dimasukkan pada tubuh seorang wanita tanpa sepengetahuannya dan membuat wanita itu mudah untuk dikontrol, semacam hipnotis. Setelah itu parasit (larva) yang ada di tubuh wanita itu dipindahkan ke tubuh seekor babi. Wanita tersebut terbangun di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan tanpa mengetahui apa yang baru saja terjadi. Kehidupannya menjadi membingungkan dan seakan tak bernyawa.

Suatu ketika ia bertemu dengan seorang lelaki di kereta, mereka berkenalan hingga mereka pun menikah. Terdapat adegan dalam film yang menunjukkan bahwa mereka memiliki tanda yang sama di dekat mata kaki mereka. Dari situ saya mulai menerka bahwa lelaki itu telah mengalami hal yang sama dengan si wanita. Adegan-adegan selanjutnya semakin tidak jelas, tapi buku Henry David Thoreau yang berjudul Walden menjadi kunci di sini. Sampai pada akhirnya wanita itu bersama suaminya berhasil mengetahui apa yang telah terjadi dan ternyata mereka bukan satu-satunya korban.

Adegan-adegan yang tidak jelas hanya berupa potongan-potongan visual yang jarang melibatkan dialog. Isinya meliputi proses biologis yang tampak melalui mikroskop. Pembicaraan wanita itu dengan suaminya di mana cerita mereka saling terbelit satu sama lain seolah-olah masa lalu wanita itu juga masa lalu suaminya. Mereka juga melakukan beberapa hal yang terlihat robotik, seperti ada yang mengontrol pikiran mereka dan mereka patuh-patuh saja. Ada saatnya adegan berpindah-pindah dari kehidupan mereka ke kehidupan babi-babi yang “terkait” dengan mereka.

Dari review yang saya baca banyak yang berpendapat kalau film ini membicarakan tentang identitas, ingatan, ataupun eksistensi. Tapi di luar itu tidak ada yang dapat memahami film ini dan memberikan definisi secara pasti film ini artinya apa. Dan memang sebuah film tidak diharuskan untuk memberikan informasi yang mencukupi bagi penonton untuk mengerti apa yang tengah disaksikannya. Terkadang di situlah seninya, kita menonton film, kita tidak mengerti maksudnya, dan otak kita mulai berpikir liar dalam menafsirkannya.

Jika kalian tertarik untuk menonton film ini, bersiaplah untuk mendapati diri kalian sulit memahami film ini. Tenang, kalau kalian bingung dengan film ini, tidak ada yang salah dengan kalian. Film ini memang ditujukan untuk membuat penonton bingung dan kemudian berpikir. Bahkan saya sendiri cukup kesulitan mau memberi rating. Film ini termasuk film yang saya respect namun tidak saya suka dan sepertinya saya tidak akan menonton film ini untuk kedua kalinya. Menurut saya dari segi orisinalitas film ini sangat brilian (10/10), dari segi teknis dan akting cukup bagus (7.5/10), namun dari segi cerita kurang membuat saya terbawa emosi (6/10). Rating saya untuk film ini 7.8/10.

30-Day Song Challenge (Part 3)

DAY 21: a song you like with a person’s name in the title

Lagu kesukaan yang memakai nama orang di judulnya: Sparklehorse – Maria’s Little Elbow

Kalau saya disuruh menyebutkan lima band terfavorit, sparklehorse adalah salah satunya. Band ini menurut saya cukup underrated. Coba periksa di reddit, tidak banyak thread tentang band ini di sana. Sang vokalis, Mark linkous adalah seorang underappreciated genius with a tortured mind

Yang saya suka dari lagu Maria’s Little Elbow adalah liriknya yang sangat relatable dengan kehidupan saya. Ditambah penggunaan nama “Maria” di situ. Saya cukup mengidolakan sosok Mother Mary, sehingga nama Maria sendiri memberikan jejak yang membekas secara personal pada saya. Lirik dari lagu ini menggambarkan tentang seorang bernama Maria yang kesepian dan harus menanggung beban hidup yang berat di pundaknya, sendirian.

DAY 22: a song that moves you forward

Lagu yang mendorong saya untuk bergerak maju : Jimmy Eat World – The Middle

Lagi, yang membuat saya suka lagu ini adalah liriknya. Selain musiknya yang asik untuk joget lompat-lompat, liriknya sangat cocok untuk orang pendiam yang pernah socially anxious seperti saya. Untunglah, semakin dewasa saya semakin less anxious. Lagu ini sudah menjadi jam yang manjur untuk menyemangati diri saya sendiri.

DAY 23: a song you think everybody should listen to

Lagu yang menurut saya semua orang perlu mendengarnya: Ryuichi Sakamoto – Merry Christmas Mr. Lawrence

Saya paling speechless kalau disuruh mengungkapkan pendapat saya tentang this particular piece of music. Indah, benar-benar indah. Menawan, sungguh-sungguh menawan. Musikalitas Sakamoto tidak perlu dipertanyakan lagi. Tapi karyanya yang satu ini, bisa membuat yang mendengarnya dibanjiri rasa bahagia sekaligus haru. Apalagi kalau dipadukan dengan keindahan alam, benar-benar terasa surreal.

DAY 24: a song by a band you wish still together

Lagu dari band yang kamu harap masih bersama: Pink Floyd – Wish You Were Here

Pink Floyd memang memiliki sejarah yang cukup rumit. Syd Barret, salah satu pendirinya, harus meninggalkan band karena diduga mengalami skizofrenia akibat penggunaan obat-obatan yang berlebihan. Banyak juga perseteruan internal akibat Roger Waters yang terlalu mengontrol anggota-anggota lain. Bahkan sampai sekarang katanya Roger Waters dan David Gilmour masih belum baikan. 

Meskipun demikian, ketika talenta mereka digabungkan, terciptalah karya musik yang menjual namun juga tetap mendalam. Ini adalah kombinasi yang sulit ditemui sekarang. Musik yang menjual biasanya cenderung dangkal, suara yang repetitive dengan beat yang asik ditambah lirik tentang cinta, galau, seks, hura-hura dan sebagainya. Sementara musik yang lebih kompleks dengan lirik metaforis dan puitis hanya diketahui oleh orang-orang tertentu. Di situlah keunggulan Pink Floyd. Musik mereka dapat dinikmati banyak orang tanpa harus mengkompromikan sisi seni mereka. Entah karena mereka ada di era yang tepat, atau memang itulah yang menjadi daya tarik dari mereka.

DAY 25: a song you like by an artist no longer living

Lagu kesukaan dari musisi yang sudah meninggal: Leonard Cohen – Come Healing

Yang saya suka dari lagu-lagu Mr. Cohen adalah liriknya yang mirip ayat-ayat di kitab suci. Membuat lirik sekaliber wahyu Tuhan tentunya bukan hal yang mudah dilakukan hehe.

DAY 26: a song that makes you want to fall in love

Lagu membuatmu ingin jatuh cinta: Björk – Pagan Poetry

As sad as it sounds, lagu ini sangat emosional. Ini bukan lagu tentang cinta yang indah ataupun bahagia. Ini adalah lagu tentang cinta sebelah pihak dan kekecewaan. Namun, cara Björk dalam membawakan lagu ini membuat pendengar benar-benar bisa merasakan torture yang dialami tokoh yang dinyanyikan.

DAY 27: a song that breaks your heart

Lagu menghancurkan hatimu: Joy Division – Love Will Tear Us Apart

Di saat bagi yang lain cinta itu menyatukan dua orang insan, bagi Ian Curtis, sang vokalis, cinta itu justru memisahkan. Dilema Curtis dalam memilih untuk tetap bersama istrinya atau berpindah ke orang yang dicintainya tercermin dalam lagu ini. Ian Curtis menginginkan keduanya, ia ingin tetap bersama istrinya juga orang yang dicintainya, tapi itu tidaklah mungkin. Ia tersiksa oleh dilemanya ini, juga epilepsi yang dideritanya yang membuatnya kewalahan menghadapi popularitas, hingga akhirnya ia mengakhiri hidupnya.

DAY 28: a song by an artist whose voice you love

Lagu dari musisi yang suaranya kamu sukai: Portishead – The Rip

Saya menyukai suara dari Beth Gibbons, vokalis band trip-hop asal Inggris, Portishead. Dari semua suara penyanyi wanita yang sebenarnya bagus-bagus, hanya suara Beth Gibbons yang benar-benar membekas bagi saya. Saya suka cara bernyanyinya yang santai namun juga tampak sangat terhanyut dalam lagu yang ia nyanyikan. Dan dalam lagu The Rip suaranya sangat syahdu untuk didengar. Oh iya, lagu ini juga lagu yang sangat amat saya sukai. Musiknya membuat kecanduan dan liriknya sangat puitis.

DAY 29: a song you remember from your childhood

Lagu yang kamu ingat dari masa kecilmu: Coldplay – The Scientist

Video klipnya yang berjalan mundur benar-benar mind blowing, confusing, sekaligus annoying bagi saya yang masih kecil dan polos hehehe.

DAY 30: a song that reminds you of yourself

Lagu yang mengingatkanmu pada dirimu: The Smiths – Accept Yourself

Sebenarnya ada banyak lagu yang mengingatkan saya akan diri saya sendiri karena syarat utama sebuah lagu untuk dapat make it to my playlist  adalah harus relatable. Saya mendengarkan musik lebih ke tujuan katarsis hehehe. Mendengarkan lagu yang relatable membuat saya merasa tidak sendirian, tidak aneh-aneh amat, dan kadang wallow in my own misery. Tapi yang pertama terbersit ya lagu dari The Smiths ini. Salah satu band terfavorit saya karena musiknya yang asik dengan sentuhan gitar a la Johnny Marr dan juga lirik dari Morissey yang hampir semuanya relatable dengan saya haha.

What am I?

Like a bird losing its feathers
A phoenix drown in its own ashes
A moving corpse, infected
Howling to the call of demons
Dancing through the raging flames
Enlightened mind, inflicted

Under the silver umbrella
Keeping the shadows underneath
All rays reflected
A stranded Cinderella
Once a belle, now losing her teeth
Merely deluded

Dreaming to fly up above the sky
As stones sink in the water
Days are lacking surprise
Flares and smokes drifting high
As feet glide on the butter
Dead at nights unable to rise

Tangled up in her lies
Reality deceives her eyes
A dead end with two turns

One's high the other's low
One's wild the other's tired
Rumbling voices and echoes
Visions and terrors wired

I am forever

30-Day Song Challenge (Part 2)

DAY 11: a song you never get tired of

Lagu yang tidak pernah membuat saya bosan: Radiohead – Codex

Slight of hand
Jump off the end
Into a clear lake
No one around
Just dragonflies
Fantasize
No one gets hurt

You've done nothing wrong
Slide your hand
Jump off the end
The water's clear
And innocent
The water's clear
And innocent

Liriknya sederhana namun mengandung banyak makna, singkat kata liriknya puitis. Saya suka lagu yang liriknya multi tafsir seperti ini. Mungkin Thom Yorke tidak menyengaja membuat liriknya multi tafsir, tapi berhubung lirik-lirik lagu Radiohead sulit dipahami saking metaforis atau alegorisnya sebagian besar lagu mereka jatuhnya multi tafsir. Lagu ini sangat menenangkan dan bisa didengarkan ketika suasana hati sedang bahagia maupun tidak. Kalau saya menginterpretasikan lagu ini tentang letting go, entah itu ada hubungannya dengan kematian atau perubahan.

DAY 12: a song from your preteen years

Lagu sebelum masa remaja kamu: Avril Lavigne – I’m With You

Ini lagu jaman saya baru masuk SD. Dulu saya sempat ngefans sama Avril Lavigne, tapi seiring dengan saya beranjak dewasa, pengetahuan musik saya semakin luas dan selera musik saya berubah. Walaupun begitu sampai saat ini saya masih suka mendengarkan lagu ini, berbicara tentang kesepian dan desperate for human connection.

DAY 13: a song you like from the 70s

Lagu tahun 70an yang kamu suka: David Bowie – The Man Who Sold the World

Awalnya saya kira lagu ini adalah lagu milik Nirvana karena mereka pernah mengcover lagu ini dan versi mereka lumayan terkenal, terlihat dari banyaknya jumlah viewer di youtube. Ternyata saat saya mulai mengeksplorasi musik Bowie saya menemukan lagu ini dan cenderung lebih suka versi orisinilnya ketimbang yang dibawakan Nirvana meskipun mereka mampu membawakannya dengan sangat baik.

DAY 14: a song you’d love to be played at your wedding

Lagu ingin diputar saat pernikahanmu: Villagers – The Wonder Of You

Walaupun saya sangat skeptis kalau saya bakal menikah kelak, tapi rasanya lagu ini paling cocok diputar untuk acara pernikahan. Liriknya yang romantis seakan mengimplikasikan true love dan keinginan untuk sehidup semati.

Saya tahu lagu ini dari serial televisi HBO yaitu Big Little Lies musim kedua. Versi yang dibawakan Villagers ini sebenarnya cover dari The Platters. Tapi berkat pembawaannya yang indie saya lebih suka yang versi Villagers hehe.

DAY 15: a song you like that’s a cover by another artist

Lagu yang kamu sukai yang merupakan cover dari seniman lain : Patti Smith – Everybody Wants To Rule The World

Terinspirasi dari novel George Orwell yang berjudul 1984, lagu ini dirilis pada tahun tersebut oleh band Tears for Fears. Novelnya sendiri terbit pada tahun 1949, sehingga di eranya novel ini dianggap novel fiksi ilmiah yang berlatar pada suatu masa depan distopian di mana sosialisme menguasai Inggris dan segala sesuatu yang dilakukan diawasi. Baru pada tahun 2007 lagu ini dicover oleh Patti Smith dan masuk ke dalam albumnya yang dinamai Twelve. Bagi saya suara Patti Smith yang khas membuat lagu ini terdengar lebih easy listening.

DAY 16: a song that’s a classic favourite

Lagu jadul yang selalu jadi kesukaan: Brian Eno – I’ll Come Running

DAY 17: a song you’d sing a duet with someone on karaoke

Lagu yang ingin dinyanyikan bareng dengan seseorang saat karaoke: Frankie Valli – Can’t Take My Eyes Off You

It’s a fun song ergo it’ll be fun to do.

DAY 18: a song from the year you were born

Lagu dari tahun kelahiranmu: Pearl Jam – I Got Id

Saya lahir di tahun 1996 dan lagu ini rilis di tahun yang sama so… I was doomed.

DAY 19: a song that makes you think about life

Lagu yang membuatmu memikirkan kehidupan: Gary Jules – Mad World

One of my greatest talent is overthinking, and brooding over the overwhelming and depressing state of the world and existentialism in general is definitely my specialty.

Sebenarnya banyak sekali lagu yang dapat memantik otak saya untuk merenung, tenggelam dalam ketakberdayaan meratapi kehidupan. Para musisi favorit saya kebanyakan lagunya membahas hal itu, entah sebagai refleksi, pemberitahuan, atau sekedar satire dan sarkasme. Sebut saja Pink Floyd yang isinya membahas kesepian, dunia modern, ketenaran yang berakhir tragis. Atau Radiohead dalam album mereka OK Computer yang bisa dibilang anti-kapitalis. David Bowie, John Frusciante, Talking Heads, masih banyak lagi. Tapi yang paling mengena dan gamblang ya lagu ini, tidak memerlukan berbagai interpretasi atau pengetahuan dasar tentang suatu konsep dalam filsafat. Lagu ini bisa langsung membuat yang mendengarnya mendadak depresi.

DAY 20: a song that has many meanings to you

Lagu yang punya banyak arti bagimu: Nirvana – Lithium

Banyak arti di sini entah maksudnya multi tafsir atau begitu berarti secara personal. Lagu yang mencakup keduanya bagi saya adalah Lithium milik Nirvana. Dilihat dari judulnya lagu ini sekilas seperti mengisahkan tentang mental illness. Lithium dikenal sebagai obat untuk menangani masalah depresi. Tapi ada yang bilang lagu ini memberikan petunjuk tentang ajaran agama Buddha, nama Nirvana tampaknya menyiratkan kalau Kurt cukup melek terkait ajaran agama tersebut. Either way, lagu ini juga sangat berarti bagi saya karena bisa menggambarkan “kegilaan” yang bersemayam dalam otak saya.