Sekilas tentang Menjadi Sisyphus

Sejak lahir kita semua dikutuk untuk menanggung beban Sisyphus. Menjalani lingkaran rutinitas tiada akhir. Layaknya Sisyphus yg memikul batu besar di pundaknya, membawanya ke puncak gunung, hanya untuk melihat batu itu menggelinding dan membawanya kembali ke puncak dan melihatnya menggelinding lagi, begitu seterusnya. Semakin seseorang mengamati, semakin ia mencoba memaknai, maka kehidupan semakin tampak tak berarti. Hal-hal mekanis yang biasa ia lakukan secara otomatis, tiba-tiba terasa janggal, terutama saat ia menempatkan diri sebagai penonton dari orang lain yang melakoninya. Ia pun dilanda dilema akan keabsurdan kehidupan, dan bagaimana manusia tunduk, beberapa bahkan terlalu sibuk untuk menyadarinya. Jadi, kalau kata Camus, should I kill myself or have a cup of coffee? Mending bunuh diri apa ngopi?